‘Hai, aku rey. Aku hidup di kehidupan yang tak hidup’
Setidaknya itu yang rey tau dari dirinya, 16 tahun ia jejakkan kakinya di dunia. Tapi tak pernah ia tau bagaimana cara tertawa.
Setidaknya itu yang rey tau dari dirinya, 16 tahun ia jejakkan kakinya di dunia. Tapi tak pernah ia tau bagaimana cara tertawa.
Terik matahari pagi ini menyilaukan seperti biasanya, merambat lewat
sela sela jendela kamar rey. Dengan kekuatan gravitasi yang luar biasa
ranjang tidur rey berhasil menciptakan rasa malas yang tak tertolong.
Ya, selalu saja itu yang terjadi setiap pagi. “reeey… bangun nak, sudah
jam berapa ini, kamu harus sekolah, lihat tuh doni aja udah berangkat
dari tadii kamu malah masih molor” bunda mulai berkicau dari dapur, yaa
meski punya asisten rumah tangga tapi bunda tak pernah segan menyisihkan
waktunya untuk memasak. Apalagi jika bukan untuk rey.
Bel sekolah berbunyi 5 menit lalu, rey sudah duduk di tahtanya. Kursi
kedua dari belakang bersemayam dengan dinding kelas sisi kanan. Guru
belum juga datang. Rey mengeluarkan sahabat terbaiknya, mp3 player dan
headset yang sedari tadi setia menggantung di lehernya. Hampir semua
lagu ia punya pop indonesia hingga manca negara. Rey menunduk dan
menikmati alunan nada nada yang menyentuh gendang telinganya.
Guru datang, ruang kelas yang bergemuruh seketika menjadi setenang
tengah malam. Hening. Rey menyimpan kembali sahabatnya dan mengikuti
pelajaran, yaa meskipun sesekali ia tekan tombol play jika bosan
menghampiri.
Bel istirahat berdenting, rey yang hanya membeli permen karet, duduk
di bangku panjang taman yang hanya segelintir orang terlihat. Rey
bersama sahabat baiknya menghabiskan 15 menit waktu istirahat yang
menurutnya sangat lama. “ctak” suara kaleng terbuka membuyarkan
imajinasi rey. Gadis itu datang lagi, membawa 2 kaleng soda merah untuk
rey dan untuknya, entah apa yang membuat gadis manis ini selalu datang
dan menemui rey. “sudah 7 kali aku datang dan ini kelima kalinya
kubawakan soda, tapi belum pernah kulihat kau tersenyum tuan. Sebenarnya
apa yang salah padamu? Atau dunia yang salah memperlakukanmu?” “kau
bisa pergi jika tak nyaman denganku, sas” jawab rey ketus. Rey selalu
saja begitu, dingin. Gadis itu menyandarkan punggungnya di bangku
panjang, ia pasrah atas sikap rey, tapi ia tetap di sana, saski yakin
suatu saat rey akan membutuhkannya.
Kelas telah usai, semua anak pergi dengan urusannya masing masing,
begitupun rey. Rey berjalan gontai dengan sahabat setianya. Tiba tiba
saski datang entah dari mana, menggenggam tangan rey dan menyeretnya
pergi entah ke mana. “ihh ngapain, lepasin ah” rey membrontak “ikut aja,
aku tau kalo aku ajak kamu baik baik sudah pasti kamu menolak” jawab
saski enteng.
Sampailah mereka di sebuah taman kota, “aku lelah melihatmu di taman
sekolah sendirian, setidaknya di sini kau bisa ditemani merpati merpati
itu, meskipun mereka tak mungkin memberimu sekaleng soda” tutur saski.
“sebenarnya apa yang kau inginkan sas?” bukan menjawab rey saski malah
pergi. Rey hanya diam dan duduk di bawah pohon rindang dan berimajinasi.
“nih, sedingin kamu” saski yang lagi lagi datang entah dari mana,
menyodorkan eskrim coklat untuk rey.
Bel pulang sekolah berbunyi. semua siswa bubar, lagi-lagi saski
menyeret rey ke taman kota, kali ini bukan eskrim, saski membeli 2 balon
polos berisi hellium. “ah, gadis aneh ini mau apalagi” gumam rey. Saski
mengeluarkan gulungan kertas dan melipatnya menjadi perahu. “nih,
tuliskan masalahmu di sini, lalu lipat menjadi perahu kertas, dan ikat
ke balon” saski menyodorkan selembar kertas kosong dan pena. Rey hanya
diam dan menatap sas, menggali matanya dalam dalam, sebenarnya apa
maksut sas. “(tepuk tangan sekali) woy, hidup kan, buruan tulis, abis
ini kita pulang” ucap sas berusaha mencairkan suasana “bagaimana jika
aku tak punya masalah?” tutur rey dengan mimik datarnya “ayolaah,
haruskah aku menerjemah masalahmu lalu menuliskannya untukmu?” rengek
sas menunjukkan wajah kasihan.
Rey dan sas berdiri, dengan balon di tangan mereka, rey hanya mengikuti sas, berharap ulah sas tak semakin menjadi jika ia menolak. “1, 2, 3 lepaaas” mereka melepaskan balon masing masing, “mengapa perahu, ia diterbangkan” “agar ketika balon itu pecah, perahu jatuh kembali ke bumi, ketika ia ke perairan ia akan menyusuri arus, tapi ketika ia jatuh ke daratan, ia akan bersemayam diatas tanah, menunggu hujan melarutkannya, ini yang selalu kulakukan, ketika masalah tak dapat kuceritakan pada siapapun, setidaknya aku bisa mengadu pada alam, rasakanlah melepas balon itu seperi melepas masalah, lega sekali” kali ini sas benar, rey pun merasa lega.
Rey dan sas berdiri, dengan balon di tangan mereka, rey hanya mengikuti sas, berharap ulah sas tak semakin menjadi jika ia menolak. “1, 2, 3 lepaaas” mereka melepaskan balon masing masing, “mengapa perahu, ia diterbangkan” “agar ketika balon itu pecah, perahu jatuh kembali ke bumi, ketika ia ke perairan ia akan menyusuri arus, tapi ketika ia jatuh ke daratan, ia akan bersemayam diatas tanah, menunggu hujan melarutkannya, ini yang selalu kulakukan, ketika masalah tak dapat kuceritakan pada siapapun, setidaknya aku bisa mengadu pada alam, rasakanlah melepas balon itu seperi melepas masalah, lega sekali” kali ini sas benar, rey pun merasa lega.
Kesokannya sama, rey dan sas ke taman kota, ini terjadi setiap hari.
Pelan pelan rey meluluhkan sikapnya. Rey terbiasa dengan saski, rey
nyaman dengan saski.
“ini rumahku, masuklah, aku mau ambil barang” sas duduk di ruang tamu
rey. Bunda datang dan tersenyum kecil untuk sas. “rey itu dari dulu
pendiam, yaah memang salah bunda, rey selalu jadi saksi atas
pertengkaran ayah dan bunda, rey jadi tertekan, jiwanya tenggelam, jadi
dari kecil dia tak pernah benar-benar bahagia, bunda harap sas bisa
membuat rey sedikit senang”
Keesokan harinya, rey dan sas bersantai di Taman kota sepulang
sekolah seperti biasanya “rey, dalam hidup, kamu mau apa?” tutur sas
memecah keheningan “mau pindah, ke tempat yang tenang” jawab rey ketus
“kamu takkan merasa tenang jika mengasingkan dunia” ujar sas “aku benci
dunia” timpal rey membungkam sas seketika.
“sas, aku mau sekolah di roma, bersama ayah” hanya itu kata pamit
dari rey lewat telepon. Sas hanya bisa mengiyakan pamit rey, ia berpikir
mungkin rey tak lagi butuh sas.
Bunda menyuruh sas datang ke rumahnya dan memberi sas sebuah album
foto kecil. Di situ banyak foto-foto sas. tanpa sas sadari, rey selalu
membawa sebuah kamera pocket kecil. Di halaman pertama, ada foto sas
dari samping di bangku taman sekolah sedang bersandar bertuliskan ‘kau
mungkin menyerah atas sikapku, tapi kau tak melangkah pergi’ selanjutnya
foto soda merah ‘aku tak tau, sejak kapan ini jadi minuman favoritku’
foto merpati ‘mereka selalu bergerak, seperti kamu’ foto eskrim coklat
‘ini sedingin aku, dan semanis kamu’ foto balon dan kertas yang
seharusnya bertuliskan masalah ‘aku memang hidup di kehidupan yang tak
hidup, tapi kamu menghidupkan warnaku’ foto sas di ruang tamu bersama
bunda ‘kamu sudah tau kan, mengapa aku mengulum senyum’ dan terakhir
foto sas dengan senyum manis di taman kota ‘ada 3 hal yang tak kubenci,
Tuhan, bunda, dan kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar